Insenerator Keramasan Hasilkan 20 Megawatt Energi Listrik, Ini Nilai Investasi Pemkot Atasi Permasalahan Sampah di Palembang

PALEMBANG,BS – Permasalahan sampah masih menjadi polemik di Kota Palembang. Hampir di pastikan 1.000-1.200 ton sampah yang dihasilkan perhari yang disumbang dari rumah tangga, pasar tradisional, pertokoan, perkantoran, dan aktivitas warga kota lainnya.

Berbagai upaya dilakukan Pemkot Palembang untuk penanganan permasalahan sampah ini. Selain dengan membangun tempat pembuangan sampah terpadu di setiap kecamatan juga dengan membangun alat insenerasi atau pembakaran sampah (insenerator). Yang mana dalam waktu dekat ini akan di bangun di kawasan Keramasan Kertapati.

“Saat ini tinggal menunggu penandatangan kontrak kerja dengan pihak ketiga. Mudah-mudahan 2022 selesai,” ungkap Walikota Palembang, Harnojoyo usai menghadiri Rapat dengan PLN terkait penanganan sampah, Kamis (16/1/2020).

Pembangunan alat pembakaran sampah dengan nilai investasi 1,7 triliun ini, terang Harnojoyo menjadi salah satu langkah dari Pemkot Palembang dalam hal penanganan sampah. Mengingat Kota Palembang masuk dalam 12 lokasi untuk membangun fasilitas pengolahan sampah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Sampah

“Dengan 1.200 ton sampah yang dihasilkan perhari, hanya 600-800 ton sampah yang mampu di atasi. Dengan adanya insenerator sampah yang dihasilkan tersebut dapat teratasi dan diurai menjadi energi listrik sebesar 20 megawatt,” tutur Harnojoyo

Nantinya tambah Harnojoyo, sampah sampah yang terurai melalui pembakaran di insenerator tersebut dapat menghadilkan listrik. Yang nantinya dari energi listrik yang dihasilkan tersebut dapat di manfaatkan untuk membantu penerangan di Kota Palembang melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Karena itu, kita ingin bekerjasama dengan PLN dalam pengelolaan listrik yang dihasilkan dari pembakaran sampah tersebut, Ya PLN akan membeli dari pihak ketiga,” tukas Harnojoyo.

Sementara itu, General Manager PLN WS2JB Kanwil Sumsel, Daryono mengaku, pihaknya siap menerima dan membeli energi listrik yang dihasilkan dari pembakaran sampah melalui insenerator di Keramasan, Kertapati. Dengan mengacu pada harga pembelian yang sudah ditetapkan secara nasional.

“Untuk harganya itu sebesar 13 sen USD per Kwh nya. Kita akan siapkan aturannya,” kata Daryono.

Nantinya tambah Daryono, listrik yang di beli dari Pemkot tersebut akan digunakan oleh pembangkit PLN untuk membantu penerangan di Kota Palembang. Dengan asumsi 1 megawatt setara dengan 1.000 kilowatt.

“Nanti setelah bercampur pada pembangkit-pembangkit PLN, tidak ada perbedaan lagi kalau energi listrik yang disalurkan untuk penerangan di Kota Palembang didapatkan dari hasil pembakaran sampah. Semua nya sama,” pungkasnya. (ria)