Banner Pemprov
Banner MUBA

Sumsel kekurangan Vaksin, HD minta IDI lobi pusat

PALEMBANG,BS – Gubernur Sumsel, Herman Deru melalui organisasi Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) agar ikut lmembantu melobi pemerintah pusat agar menambah jumlah pasokan vaksin di sumsel.

” Ayo yang punya chanel-chanel di pusat. Bantu lobi agar droping jumlah vaksin bisa bertambah karena saat ini memang Sumsel sedang kekurangan vaksin, “kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Dr Lesty Nurainy dihadapan seluruh pengurus IDI Sumsel 2021-2024 yang diketuai, Dr Abla Ghanie usai di lantik di gedung Azwar Agoes Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Sabtu(4/9).

Kegiatan itu juga dihadiri Ketua Umum IDI, Dr Daeng M Faqih secara virtual meeting.

Gubernur Sumsel, kata Lesty, sudah melakukan berbagai macam cara termasuk meminta langsung dengan presiden Jokowi.

Awalnya memang pemerintah pusat hanya memberikan 50 ribu dosis vaksin saja ke Sumsel namun lantaran masih tingginya angka penambahan kasus covid di beberapa rumah sakit di Sumsel kala itu, akhirnya disetujui sekitar 400an ribu dosis vaksin perbulan, jumlah itu naik 60 ribu piel dari yang biasanya hanya sekitar 340an piel perbulan sebelumnya.

Padahal jika pasokan vaksin dikisaran 600an ribu saja tiap bulan maka pada akhir tahun 2021 atau awal 2022 mendatang target herd imunity di Sumsel bisa tercapai atau 70 persen warga sudah vaksin dan menjadi aman dan situasi covid 19 bisa ditanggulangi.

“Sekarang kita sedang berupaya terus melobi tim pusat agar pasokan terus ditambah, ” katanya.

Minimnya jumlah pasokan vaksin ke Sumsel ini memicu masih rendahnya persentase warga yang sudah disuntik. Hingga kini dari sasaran sekitar 6, 3 juta warga wajib vaksin, baru tercapai sekitar 20 persen saja untuk dosis satu dan 12 persen untuk dosis dua yang sudah vaksin.

Jauhnya selisih persentase jumlah warga yang sudah vaksin dosis satu dan dua ini lantaran jedah waktu pengiriman sampel diakuinya lama dari pemerintah pusat sehingga memicu daftar tunggu vaksin dosis dua yang sangat panjang.

Persoalan lainnya, waktu distribusi vaksin dari pemerintah pusat ke Sumsel lalu ke kabupaten dan kota juga terkendala lantaran dilakukan perminggu, dari sebelumnya setiap satu bulan sekali.

“Kita tahu bahwa secara geografis di Sumsel ini jaraknya antar kabupaten/kota ke palembang rata-rata jauh, seperti Kabupaten Muratara yang jaraknya sangat jauh ke Palembang. Baru tiga hari di ambil di dinkes Sumsel, perjalanan jauh, dua hari-tiga hari bolak balik lagi, jadi tidak efisien juga, makanya kita juga mengungkapkan kepada Kemenkes RI dan bapak Presiden agar ada solusi sehingga distribusinya cepat, lancar dan aman,”katanya.

Padahal sebenarnya tenaga Faskes di Sumsel ini sudah sangat mampu melakukan distribusi vaksin ke masyarakat dengan cepat, seperti contohnya pada perayaan HUT Bhayangkara melalui gerakan satu hari sejuta vaksin, dimana Sumsel kala itu kebagian sebesar 31 ribu Piel dan terbukti mampu didistribusikan hingga hingga 77 persen dalam waktu satu hari saja.

“Ini berkat langkah dan kerja keras tim vaksinator kita dan makin tingginya tingkat kesadaran warga untuk vaksin, ” katanya.

Fakta itu menjadi bukti bahwa tim vaksinator di Sumsel sudah sangat mampu melakukan penyuntikan vaksin dalam waktu cepat ke masyarakat, tinggal ketersediaan vaksinnya saja yang masih jadi kendala utama.

Tim vaksinator, lanjut Lesty, selain dari tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya, saat ini Dinkes juga sudah mengupgrade dan melatih 3300 vaksinator baru yang direkrut dari tenaga kesehatan TNI dan Polri yang siap terjun membantu vaksinasi masyarakat. Mereka disebar pada 459 faskes yang sudah ada.

Timnya bersama Gubernur Sumsel juga mengerahkan vaksinator tersebut untuk membantu kegiatan vaksinasi dari organisasi masyarakat di laur sentral faskes. Langkah tersebut semata-mata agar serapan vaksin masyarakat cepat naik sehingga kasus covid 19 bisa tertanggulangi.

Lesty juga memaparkan, bahwa saat ini jumlah pasien covid 19 terus berkurang, terbukti penggunaan extra bed di rumah sakit dan status level mengalami penurunan. Dari 17 kabupaten kota di Sumsel, 11 kabupaten sudah masuk zona orange dan enam lainnya berstatus zona kuning atau level 3 , level dua dan level satu.

“Jadi tak ada lagi level hitam atau merah di Sumsel, ” katanya. Begitu juga konsumsi oksigen yang sebelumnya bisa capai 37 ton per hari, kini turun menjadi 17 ton per hari.

Sementara Ketua Umum IDI, Dr Daeng M Faqih bersama Ketua IDI Sumsel, Dr Abla Ghanie akan terus berupaya melakukan langkah nyata agar bisa membantu menanggulangi kasus penambahan covid 19. Meski keduanya kompak belum bisa memastikan sampai kapan masa pandemi berakhir tapi langkah nyata seperti edukasi ke masyarakat tentang pentingnya vaksin terus dilakukan.

Pola penanggulangan pasien yang masih hingga yang tuntas menjalani perawatan juga masih ditangani dan diawasi secara intensif, meski faktanya Covid 19 sudah banyak menelan korban dari tenaga kesehatan.

Secara nasional, hingga kini, sebanyak 700 dokter, 600 perawat dan 400 bidan meninggal dan khusus di Sumsel, totalnya capai 36 tenaga nakes, dengan rincian 19 tenaga dokter, 15 perawat dan dua bidan yang meninggal akibat terinfeksi virus Covid 19 usai menangani pasiennya.

Makanya, pihaknya meminta pemerintah agar melakukan perlindungan kuat kepada tenaga nakes, seperti memberikan fasilitas antigen hingga PCR gratis, memberikan fasilitas memadai seperti tempat tidur atau tempat yang nyaman untuk nakes yang positif Covid 19 selama menjalani perawatan.

“Karena kebanyakan nakes ini justru tidak kebagian tempat tidur untuk menjalani perawatan. bahkan banyak juga yang baru menyadari sudah terdeteksi virus ketika sudah dalam tahap berbahaya, ” katanya.

Sedangkan untuk vaksin tahap 3 di Sumsel, khususnya untuk tenaga nakes sudah capai 50 persen. (Why).