PALEMBANG,BS – Mendekati hari perayaan Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April mendatang, warga keturunan Tionghoa mulai ziarah membersihkan makam dan sembahyang untuk mehormati para leluhurnya.
Di Palembang pemakaman Talang Kerikil dan Soak Bato, Minggu (1/4/2018) mulai dipadati warga Tionghoa.
”Ini kegiatan rutin saya tiap tahun,” kata Dewan Penasehat Walubi Sumsel Hermanto Wijaya.
Bagi dirinya suatu keharusa untuk melakukan Ceng Beng, ini sebagai bentuk baktinya kepada leluhurnya.
“Kita generasi sekarang ini hanya meneruskan apa yang telah dicapai leluhur terdahulu,” katanya.
Ketua Panitia Pelaksana Chandra Husin mengatakan, kalau perayaan Ceng Beng pada hari ini (Minggu (1/4) dimulai pada pagi hari jam 08.00 wib hingga sore.
.” Warga Tionghoa secara bertahap melakukan ritual Ceng Beng. Puncaknya sendiri akan dihelat pada tanggal 5 April mendatang,”ujarnya.
Menurut Chandra, luas pemakaman Tionghoa yang ada di Soak Bato dan Talang Kerikil ini mencapai 100 ribu hektar sehingga tak heran saat perayaan Ceng Beng keluarga dari leluhur yang datang mencapai ratusan ribu orang.
“Beruntung dalam perayaan Ceng Beng seluruh instansi mulai dari polisi, TNI, Pol PP dan lainnya membantu sehingga perayaan Ceng Beng berlangsung lancar,”katanya.
Chandra mengungkapkan, saat perayaan Ceng Beng seluruh keluarga leluhur dimana pun berada akan pulang ke kampung halaman untuk berziarah ke makam leluhurnya. Ini tradisi turun menurun dari jaman dahulu hingga sekarang,” ungkapnya.
Chandra menerangkan, Ceng Beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian awal (bukan akhir).
“Bila kita artikan kata Ceng beng, maka Ceng berarti cerah dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Cengbeng berarti terang dan cerah,” ujarnya.
Menurut Chandra, sejarah Ceng beng yang dimulai pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca) dan dimulainya hawa panas.
Pada dinasti Tang, hari ceng beng ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk menghormati para leluhur yang telah meninggal, dengan mengimplementasikannya berupa membersihkan kuburan para leluhur, sembahyang dan lain-lain.
“Di dinasti Tang ini, implementasi hari ceng beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan,” jelasnya. (za)
