Inilah Mushola Al-Kautsar Dibangun Sejak Abad ke-18 Masih Berdiri Kokoh

Laporan: UCI

 

KOTA PALEMBANG, BS — Mushola Al-Kautsar Palembang yang terletak di Jalan Ali Gatmir, Lorong Sungai Buntu, Kelurahan 10 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II Kota Palembang masih berdiri kokoh. 

 

Padahal, Mushola yang berada tepat dipinggir Sungai Musi ini sudah dibangun sejak abad ke-18. Musala ini dibangun oleh Habib Husein bin Abdullah Alkaff.

 

Pantauan di lokasi, seluruh bangunan mushola masih terbuat dari kayu dan terlihat sederhana.

 

Namun, letaknya yang berada tepat dipinggir Sungai Musi membuatnya terasa tenang dan sejuk.

 

Tak hanya itu, semilir angin yang berhembus disertai dengan pemandangan perahu kecil dan kapal lalu lalang yang melintas di Sungai Musi menjadi momen istimewa saat duduk di teras Mushola Al-Kautsar.

 

Namun, dibalik itu semua, Mushola Al-Kautsar tersimpan cerita yang memilukan.

 

Mushola ini juga menjadi saksi bisu pengeboman oleh Belanda saat perang lima hari lima malam, setelah Proklamasi.

 

Mushola Al-Kautsar Palembang pernah di bom oleh Belanda saat perang lima hari lima malam, setelah Proklamasi.

 

Alasan Belanda mengebom musala sendiri karena mengira musala termasuk area Istana Anyar atau orang Bingen menyebutnya dengan Astanaanyar.

 

Setelah pengeboman tersebut, Mushola hancur dan hanya menyisakan sebagian bangunan.

 

“Mushola ini pernah jadi saksi pengeboman oleh orang Belanda untuk menghancurkan kekuasaan di sini, karena dekat dengan Istana Anyar, Mushola hancur, hanya menyisakan sebagian bangunan, “cerita Abdullah bin Alwi Bin Husein cucu pendiri musala saat ditemui di lokasi, pada Senin (10/03/2025).

 

Lalu kata Abdullah, Mushola kembali dibangun oleh oleh Habib Muhksin Syekh Abu Bakar.

 

“Untuk bagian dalam musala itu dalamnya masih seperti dulu tidak berubah, kayunya masih kayu dahulu, paling ada penambahan kanan dan kiri ini saja, sebab masyarakat di sekitar masalah tiap tahunnya bertambah, sehingga kanan dan kiri bangunan Mushola diperluas,” kata Abdullah.

 

Abdullah mengungkapkan, bahwa pembangunan Mushola sendiri sebagai tempat beribadah dan untuk menyiarkan agama Islam.

 

“Mushola ini dibangun dipinggir Sungai Musi di akhir abad ke-18, pembangunan Mushola ini sebagai tempat beribadah dan untuk menyiarkan agama Islam, “ungkap Abdullah.

 

Masuk ke dalam Mushola terlihat mimbar sederhana berwarna coklat sebagai tempat imam memimpin salat. Mimbar kayu yang menempel di dinding warna hijau putih tersebut tampak menonjol. Apalagi bentuk mimbar itu membulat corong ke atas seperti bangunan kubah ciri khas musola.

 

Memiliki luas kurang lebih 10×12 meter, Mushola Al Kautsar mampu menampung sekitar 200 jemaah. Jemaah itu biasanya dari warga sekitar Mushola dan ada juga yang dari Banyuasin, daerah Sungsang dan Mesuji.

 

Jemaah luar Palembang itu, biasanya singgah di waktu Salat Zuhur juga Asar. Mereka adalah nelayan yang melintas di Sungai Musi. Tak hanya salat, nelayan-nelayan tersebut sengaja ingin istirahat.

 

Nelayan yang singgah di sana, biasanya meletakan perahu kecil atau getek mereka di pagar teras belakang Mushola yang langsung menghadap ke bantaran Sungai Musi. Teras belakang itu dipagar dan disediakan tangga untuk kapal kecil merapat.

 

“Dulu banyak nelayan-nelayan yang singgah salat, tetapi sejak adanya pembangunan jembatan-jembatan penghubung Ulu dan Ilir, kebiasaan nelayan bersinggah ke Mushola Al Kautsar berkurang,” ujar Abdullah.

 

Saat Ramadan seperti sekarang lanjut Abdullah, jemaah di Mushola Al Kautsar Palembang juga ramai didatangi masyarakat ketika momen Ziarah Kubro.

 

“Bahkan, banyak imam besar asal Yaman yang berkunjung ke Mushola, karena memang pendiri Mushola ini merupakan keturunan wali dan perantau dari Arab, ” terang Abdullah.

 

Masyarakat sekitar Mushola ini pun, juga merupakan peranakan keturunan Arab yang mayoritas mereka adalah pedagang, sehingga tradisi umat muslim masih sangat berkembang.

 

Abdullah bercerita, keistimewaan Mushola Al Kautsar Palembang tak hanya dari aturan dan bangunan yang berada di atas aliran Sungai Musi. Rumah ibadah ini, tidak pernah kebanjiran meski berdiri di sungai terpanjang kedua Pulau Sumatra.

 

“Cuaca hujan sederas apapun, Mushola ini Alhamdulillah tak pernah banjir. Paling di teras belakang, merembes air dan tidak masuk dalam musala,” beber Abdullah.

 

Cerita menarik lain kata Abdullah, selama Mushola ini ada, sejumlah tokoh dan pejabat pernah berkunjung dan salat di sini, seperti Wali Kota Palembang periode Eddy Santana dan Harnojoyo. Kemudian ada juga dari pengacara tenar Ari Yusuf Amir.

 

“Harnojoyo dulu itu salat subuh berjamaah pernah di sini, karena programnya,” jelas Abdullah.

 

Mushola Al-Kautsar Palembang juga diperkhususkan untuk laki-laki salat 5 waktu, dan tidak diperbolehkan untuk perempuan.

 

“Perempuan tidak diperbolehkan salat di dalam musala sesuai dengan hukum syariat Islam, tetapi tidak berlaku untuk di Masjid, kalau di masjid perempuan boleh salat,” jelas Abdullah.

 

“Misal salat tarawih untuk perempuan itu dulu ada rumah didepan, tidak hanya Mushola Al-Kautsar, hampir seluruh Mushola di mana saja, memang hukum syariat nya tidak memperbolehkan perempuan salat di Mushola, karena lebih bagusnya di rumah saja, ” tutup Abdullah.

 

Saat ini, Mushola Al-Kautsar Palembang dijaga dari generasi ke generasi oleh keluarga Syekh Abu Bakar dan warga sekitar.