Ingatkan Budaya Literasi, Misral: Guru adalah wajah literasi di sekolah

Laporan: Hasan Basri

 

KOTA PALEMBANG, BSBudaya literasi di kalangan siswa masih menjadi pekerjaan rumah besar dunia pendidikan di Sumatera Selatan. Di tengah arus deras informasi digital dan media sosial, kemampuan membaca kritis, menulis runtut, serta memilah informasi faktual dinilai belum tumbuh sebagai kebiasaan yang mengakar di lingkungan sekolah.

 

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, Misral, menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan fondasi utama dalam membentuk pola pikir, karakter, dan daya saing generasi muda.

 

“Literasi adalah kunci. Tanpa budaya literasi yang kuat, siswa akan mudah terombang-ambing oleh informasi yang menyesatkan, dangkal dalam berpikir, dan lemah dalam mengambil keputusan,” ujarnya

 

Menurut Misral, tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan rendahnya minat baca, tetapi juga perubahan perilaku belajar siswa. Gawai dan media sosial, kata dia, telah menggeser kebiasaan membaca buku secara mendalam menjadi konsumsi informasi singkat, instan, dan sering kali tidak diverifikasi.

 

Sekolah Dinilai Belum Maksimal

Misral menilai, sebagian sekolah masih memaknai literasi secara sempit. Program literasi kerap berhenti pada kegiatan seremonial, seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran, tanpa tindak lanjut yang membangun daya nalar siswa.

 

“Membaca tanpa memahami, menulis tanpa berpikir kritis, itu bukan literasi. Literasi harus melatih siswa untuk bertanya, menganalisis, dan menyimpulkan,” katanya

 

Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk berdialog, berdebat secara sehat, dan mengekspresikan gagasan melalui tulisan maupun lisan.Perpustakaan, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi pelengkap bangunan sekolah, tetapi pusat aktivitas intelektual siswa.

 

Dinas Pendidikan Sumsel mendorong guru dan kepala sekolah untuk menjadi teladan literasi. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus membangun tradisi membaca dan menulis dalam proses pembelajaran.

 

“Guru adalah wajah literasi di sekolah. Jika guru tidak gemar membaca dan menulis, jangan berharap siswa akan mencintai literasi,” ujarnya

 

Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital, terutama dalam menghadapi maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif di ruang digital. Siswa perlu dibekali kemampuan memverifikasi sumber, memahami konteks, dan berpikir kritis terhadap setiap informasi yang mereka konsumsi.

 

Misral mengingatkan bahwa rendahnya budaya literasi akan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia Sumatera Selatan di masa depan. Daerah yang ingin maju, kata dia, harus bertumpu pada generasi yang cakap membaca realitas, bukan sekadar menghafal.

 

“Kita tidak sedang mendidik siswa untuk lulus ujian semata, tetapi menyiapkan mereka menghadapi kehidupan. Literasi adalah bekal utama itu,” ujarnya.

 

Dinas Pendidikan Sumsel, lanjut Misral, berkomitmen memperkuat gerakan literasi sekolah melalui penguatan perpustakaan, pelatihan guru, serta kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

 

“Literasi bukan tanggung jawab sekolah saja. Ini gerakan bersama. Jika kita gagal membangun budaya literasi hari ini, kita sedang mempertaruhkan masa depan anak-anak kita,” tutupnya.