BENGKULU, BS – Ratusan nelayan tradisional Malabero Kecamatan Teluk Segara Bengkulu,Kamis (1/3/2018) berjaga – jaga di bibir pantai dengan melengkapi diri dengan senjata tajam, berupa pedang Samurai,ekor pari, golok, pisau dan pedang panjang, menyusul aksi keributan dengan nelayan Trawl Kampung Sejahtera Pulau Baai.
Keributan ini, diduga lantaran adanya nelayan Kampung Sejahtera Pulau Baai yang kedepatan melakukan penangkapan ikan mengunakan alat yang di larang (Trawl) Pukat Harimau di laut Bengkulu yang dinilai nelayan tradisional dapat merusak ekosistem populasi ikan.
Informasi yang dihimpun, ketegangan antar nelayan ini memuncak setelah terjadinya baku hantam sesama nelayan, yang mengakibatkan salah satu nelayan SK (32) mengalami luka robek di kepala saat menghindari amukan nelayan tradisional Malabero.
Pantaun dilapangan, suasana mencekam dikawasan pantai mengundang kepanika warga setempat, dan mendapat pengawalan ketat pihak kepolisian.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bengkulu, Ivan Syamsurizal menyayangkan insidèn keributan antar nelayan tersebut.
“Memang kuncinya adalah komitmen di penegakan aturan,” katanya, Jumat (2/3/2018).
Menurut peristiwa keributan antar nelayan inj, bukanlah yang pertama hal serupa juga terjadi tahun 1998 dan 2000 lalu.
“Yang jelas dalam hal penegakan aturan perlu proses karena pelanggaran sudah dilakukan sejak lama, seolah menjadi pembenaran bahwa pelanggaran berdampak positif terhadap perekonomian. Untuk sekarang agar bisa bergerak efektif menyelesaikan hal ini, via pendekatan hukum, keamanan, sosial, ekonomi, lingkungan, dan juga politis,” tegas Plt.
Namun kondisi sekarang sudah berangsur kondusif.
“Untuk laporan Lanal kita peroleh situasi terpantau aman dan kondusif, walaupun sempat terjadi macet. Sementara korban sudah dijemput oleh Polisi Air Udara (Polairud) beserta Lanal dan tiba dipelabuhan Pulau Baai,” ungkapnya.(Yapp)
