Laporan: Hermansyah
KOTA PALEMBANG, BS — Polemik video viral di media sosial terkait praktik pengobatan alternatif Rumah Sirih Palembang di kawasan Perumahan Top 100, Jakabaring, akhirnya mendapat klarifikasi dari pihak pengelola bersama tim kuasa hukum.
Tim kuasa hukum dari Sakahira Law Firm yang dipimpin A Rilo Budiman, didampingi Axel F, Abyan, dan Amin Rais menegaskan bahwa informasi yang beredar dinilai tidak utuh dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Datang dan buktikan langsung, jangan hanya menilai dari potongan video yang beredar di media sosial,” tegas A. Rilo Budiman saat dikonfirmasi, pada Sabtu (25/04/2026).
Menurutnya, sejumlah pihak telah turun langsung melakukan peninjauan, di antaranya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sumsel, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPA3) Sumsel.
“Hasilnya, tidak ditemukan adanya pelanggaran atau tindakan yang menyalahi aturan dalam praktik pengobatan tradisional yang dijalankan,” ujarnya.
Ia juga menyebut pihak pengelola telah memberikan penjelasan secara terbuka, termasuk kepada pemilik akun yang mengunggah video tersebut.
“Semua sudah dijelaskan langsung oleh owner Rumah Sirih Palembang, Ferizka Utami. Semua clear, tidak ada pelanggaran dan seluruh kegiatan berjalan sesuai prosedur,” tambahnya.
Kuasa hukum turut menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat terjadi akibat viralnya video tersebut.
Sementara itu, Intan, orang tua dari Arga sekaligus pemilik akun yang mengunggah video viral, menegaskan bahwa unggahan tersebut dilakukan atas kemauan pribadi tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.
“Anak saya sehat, tidak ada luka, memar, atau hal yang membahayakan. Saya justru senang karena ada perkembangan kesembuhan setelah berobat di Rumah Sirih. Saya rutin sejak 2014,” katanya.
Owner Rumah Sirih Palembang, Ferizka Utami, menjelaskan bahwa pihaknya tidak memiliki akun TikTok resmi dan hanya menggunakan Instagram sebagai media informasi.
Ia menyebut video viral tersebut merupakan unggahan pasien yang merasa puas atas perkembangan kondisi anaknya setelah menjalani pengobatan secara rutin.
“Pasien mengunggah sendiri karena merasa ada perubahan positif. Namun, video itu kemudian disalahartikan oleh oknum yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya,” jelas Ferizka.
Ia menerangkan metode pengobatan yang digunakan berupa totok sirih, yakni terapi tradisional dengan media kayu untuk menekan titik-titik saraf tertentu. Metode ini diterapkan berbeda sesuai usia pasien, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa hingga lansia.
Menurutnya, praktik tersebut telah berjalan sejak 2012 dan dilakukan secara terbuka.
“Kami tidak menetapkan tarif khusus, semuanya seikhlasnya. Harapannya, semua masyarakat bisa mendapatkan pertolongan, karena kesehatan adalah rezeki paling berharga,” ujarnya.
Ferizka mengakui viralnya kasus ini membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, Rumah Sirih semakin dikenal luas, namun di sisi lain muncul tudingan yang dinilai tidak berdasar.
“Saya tidak ingin viral karena konflik. Jika viral, saya ingin karena prestasi membantu masyarakat menjadi sehat,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kami tetap buka seperti biasa dan melayani masyarakat. Tidak ada unsur paksaan. Jika cocok silakan lanjut, jika tidak cocok silakan mencari pengobatan lain. Kesembuhan milik Allah SWT, kami hanya perantara,” ujarnya.
Senada, Axel F, menegaskan bahwa anak dalam video viral tersebut merupakan anak owner serta anak pasien yang memang rutin berobat dan menunjukkan perkembangan positif.
“Semua dilakukan secara transparan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Silakan masyarakat datang langsung untuk melihat,” katanya.
Ia menambahkan, Rumah Sirih Palembang telah berdiri selama 14 tahun dan tidak pernah menerima laporan serius atau komplain dari pasien. Bahkan, jumlah pasien setiap hari mencapai 200 hingga 300 orang.
“Itu menjadi bukti manfaat yang dirasakan masyarakat. Promosi kami bukan dari media sosial, melainkan dari pengalaman langsung pasien,” tutupnya.
Pantauan awak media, pasien yang datang terlihat antre dan menunggu secara tertib. Lokasi serta fasilitas yang tersedia dinilai cukup nyaman bagi para pengunjung.
