Kisah Pilu Satu Keluarga Asal Lampung Korban Tabrakan Bus ALS di Muratara, Berangkat Merantau Demi Bangun Rumah

Laporan: Uci

 

KOTA PALEMBANG, BS — Duka mendalam menyelimuti keluarga korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki PT Seleraya di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

 

Salah satu korban diketahui merupakan satu keluarga asal Desa Talang Kangkung, Kecamatan Way Tuba, Kabupaten Waykanan, Lampung.

 

Mereka adalah Agustina Maharani (24), suaminya Aldi Setiawan (26), serta putri mereka Bela yang masih berusia 1 tahun 8 bulan.

 

Paman korban, Hambali (43) mengatakan keluarga sama sekali tidak memiliki firasat buruk sebelum ketiganya berangkat merantau menggunakan Bus ALS menuju Pekanbaru dan Medan.

 

“Mereka mau merantau kerja di kebun sawit karena ada saudara di sana. Tidak ada firasat apa-apa sebelumnya,” kata Hambali saat ditemui di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, pada Kamis (07/05/2026).

 

Hambali mengungkap bahwa keberangkatan keluarga tersebut justru sempat beberapa kali tertunda meski tiket bus sudah dibeli sejak Minggu lalu.

 

Awalnya mereka dijadwalkan berangkat pada Senin, namun batal. Pada malam Selasa, keberangkatan kembali tertunda sebelum akhirnya mereka benar-benar berangkat pada Selasa pagi.

 

“Tiket sudah dibeli dari hari Minggu. Senin belum jadi berangkat, malam Selasa juga tertunda lagi, akhirnya Selasa pagi baru jalan,” ungkap Hambali.

 

Sebelum berangkat, Agustina dan keluarganya berpamitan seperti biasa. Hambali mengaku keponakannya itu memiliki harapan besar untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga dari hasil merantau.

 

“Dia punya rencana mau bangun rumah sendiri. Saya sempat bantu beli material, lalu dua hari kemudian dia izin berangkat untuk cari modal usaha,” tutur Hambali.

 

Kabar kecelakaan maut tersebut pertama kali diketahui keluarga dari pemberitaan media. Setelah mencocokkan informasi kendaraan dan data penumpang, keluarga langsung mendatangi loket bus untuk memastikan identitas korban.

 

“Kami tahunya dari berita, lalu dicocokkan data kendaraan dan penumpangnya,” jelas Hambali.

 

Lanjut dikatakan Hambali bahwa proses pencarian informasi korban berlangsung cukup lama. Keluarga bahkan sudah berada di rumah sakit sejak subuh. Namun, baru diperbolehkan masuk menjelang siang.

 

“Kami datang dari subuh, baru bisa masuk sekitar Pukul 11.30 WIB,” terang Hambali.

 

Saat ditemui di rumah sakit, ayah Agustina tampak hanya tertunduk lemas dengan tatapan kosong. Kesedihan mendalam terlihat jelas dari raut wajahnya setelah kehilangan putri sulung, menantu, sekaligus cucunya dalam tragedi tersebut.