Laporan: Hasan Basri
KOTA PALEMBANG, BS — Tak ada ruang untuk penambahan libur. Selepas jeda tanggal merah dan awal Ramadan 1447 Hijriah, aktivitas belajar mengajar di Kota Palembang dipastikan kembali berjalan normal. Sekolah tetap beroperasi sesuai kalender akademik yang telah ditetapkan.
Mulai 23 Februari hingga 14 Maret 2026, kegiatan pembelajaran kembali berlangsung di satuan pendidikan dengan sejumlah penyesuaian. Setiap jam pelajaran dipangkas 10 menit dari durasi normal sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi siswa yang menjalankan ibadah puasa, tanpa mengurangi substansi maupun capaian kompetensi pembelajaran.
Kepala Kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Palembang, Amirul Insan, menegaskan bahwa kedisiplinan terhadap kalender pendidikan menjadi kunci agar target kurikulum semester genap Tahun Pelajaran 2025/2026 tetap tercapai sesuai perencanaan.
“Tidak ada tambahan hari libur di luar ketentuan. Sekolah harus memastikan proses belajar tetap efektif, terukur, dan berkualitas meski berada dalam suasana Ramadan,” ujarnya.
Sesuai edaran resmi, pada 18–21 Februari 2026 kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara mandiri. Siswa mengerjakan penugasan dari sekolah di lingkungan keluarga, tempat ibadah, maupun masyarakat.
“Skema ini bukan libur tambahan, melainkan pola pembelajaran alternatif yang tetap bernilai edukatif sekaligus memperkuat pembentukan karakter,” katanya.
Memasuki 23 Februari hingga 14 Maret 2026, pembelajaran tatap muka kembali digelar penuh di sekolah. Penyesuaian durasi dilakukan dengan memangkas 10 menit setiap jam pelajaran dari jadwal normal.
Kebijakan tersebut, lanjut Amirul, diambil untuk menjaga kondisi fisik siswa selama berpuasa, namun tetap memastikan kualitas pembelajaran tidak menurun.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh guru, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah, tetap hadir dan menjalankan tugas seperti biasa.
“Tidak ada toleransi terhadap ketidakhadiran tanpa alasan yang sah. Disiplin aparatur pendidikan menjadi fondasi utama dalam menjaga mutu layanan pendidikan,” tegasnya.
Menurut dia, Ramadan bukan alasan untuk memperlambat ritme pendidikan. Momentum ini justru dimanfaatkan untuk memperkuat karakter siswa, menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas.
“Dengan jadwal yang terkendali dan penyesuaian yang terukur, kami optimistis proses pembelajaran tetap optimal dan siswa siap menghadapi seluruh agenda akademik semester genap secara maksimal,” pungkasnya.
