Sekolah Rakyat Palembang: Memutus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan Berbasis Bakat

Laporan: Hasan Basri

 

KOTA PALEMBANG, BSNegara mulai mengubah cara memandang pendidikan bagi kelompok rentan. Di Palembang, Sekolah Rakyat hadir bukan sekadar membuka akses belajar gratis, tetapi juga menata masa depan siswa melalui pemetaan bakat sejak dini. Program ini menyasar langsung anak-anak dari keluarga kurang mampu kelompok yang selama ini paling rentan tertinggal.

 

Sekolah Rakyat Menengah Atas 7 Palembang, yang berada di bawah Kementerian Sosial, menjadi salah satu contoh konkret. Berlokasi di Jalan Sosial, Kelurahan Suka Bangun, Kecamatan Sukarami, sekolah ini telah beroperasi sejak 14 Juli 2025 dengan konsep pendidikan berbasis kebutuhan siswa. Tidak hanya ruang belajar, negara menanggung penuh seluruh kebutuhan, mulai dari seragam, perangkat belajar seperti laptop, hingga kebutuhan hidup harian siswa.

 

Kepala sekolah, Diana Nursanti, menegaskan bahwa sistem penerimaan siswa tidak bertumpu pada nilai akademik, melainkan pada kondisi sosial ekonomi. Seleksi dilakukan melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya bagi keluarga dalam kategori desil 1 dan 2. Data tersebut diverifikasi langsung oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) bersama dinas sosial untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

 

“Ini bukan sekolah untuk yang sudah unggul, tapi untuk mereka yang butuh kesempatan,” ujarnya.

 

Sambungnya, setelah diterima, siswa tidak langsung diarahkan pada jalur akademik semata. Sekolah menerapkan sistem pemetaan bakat (talent mapping) untuk menggali potensi masing-masing siswa. Bidangnya beragam, mulai dari otomotif, tata rias, salon, hingga pertanian.Pendekatan ini dinilai lebih relevan bagi siswa agar memiliki keterampilan nyata yang bisa langsung digunakan di dunia kerja.

 

Saat ini, sekolah menampung 96 siswa dari kapasitas maksimal 100 orang yang terbagi dalam empat kelas. Proses belajar didukung oleh 13 guru berstatus PPPK yang direkrut melalui Kementerian Sosial. Sistem pengajaran pun berbeda dari sekolah konvensional.

 

Sekolah Rakyat menerapkan konsep berasrama penuh, dengan seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara. 

 

“Selain itu, sistem pembelajaran menggunakan skema multi entry dan multi exit. Artinya, siswa dapat masuk tidak harus di awal tahun ajaran, karena pembelajaran berbasis modul dan Learning Management System (LMS) memungkinkan fleksibilitas waktu belajar,” katanya.

 

Ia menjelaskan, dalam keseharian, siswa mendapatkan jaminan konsumsi bergizi: tiga kali makan utama dan dua kali makanan ringan setiap hari. Lingkungan asrama juga dirancang untuk membentuk kedisiplinan dan kemandirian.

 

Di Sumatera Selatan, program Sekolah Rakyat kini telah tersebar di lima titik dua di Palembang serta masing-masing satu di Ogan Ilir, Baturaja, dan Empat Lawang. Pemerintah berharap model ini terus diperluas sebagai strategi jangka panjang dalam menekan angka kemiskinan.

 

” Sekolah Rakyat tidak hanya menawarkan pendidikan gratis, tetapi juga jalan keluar. Dengan pendekatan yang lebih personal dan berbasis potensi, program ini diarahkan menjadi alat mobilitas sosial memberi peluang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan,” tutupnya.