Banner Pemprov
Banner MUBA

Cegah Kepunahan Anggrek Bulan Sumatra, PHR Kerjasama BKSDA Sumsel Bangun Rumah Flora

MUSI RAWAS, BS  – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Field Pendopo bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) membangun rumah flora (Green House) Selangit di Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Pembangunan rumah flora sebagai bentuk komitmen perusahaan memprioritaskan keseimbangan dan kelestarian alam, lingkungan dan masyarakat.

Dengan menyejahterakan manusia, alam, dan lingkungan, maka Pertamina akan mampu mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina terus meningkatkan kinerja operasional perusahaan dari hulu sampai hilir, agar tetap mampu melayani kebutuhan energi, menjaga ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi nasional di masa yang akan datang.

Dengan aktif mencari sumber cadangan migas baru melalui kegiatan pengeboran sumur eksplorasi.

Salah satunya bentuk kepedulian dan komitmen terhadap masyarakat dan lingkungan melalui kegiatan pemberdayaan yang menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).

Kebijakan Pertamina terkait perlindungan terhadap keanekaragaman hayati adalah ekosistem yang berada di lokasi atau dekat dengan wilayah kerja baik di daratan maupun perairan.

Hal ini dikarenakan sebagian wilayah kerja Pertamina berada atau berdekatan dengan kawasan yang di lindungi atau kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di luar kawasan yang dilindungi.

Seperti pembentukan kawasan konservasi, penyelamatan dan rehabilitasi keanekaragaman hayati sebagai habitat baru bagi spesies fauna dan flora.

Kegiatan perlindungan keanekaragaman hayati oleh Pertamina dilakukan melalui program pelestarian fauna yang dinyatakan terancam punah (Critically Endangered) dan flora endemis langka atau terancam punah.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bidang lingkungan. Dibuktikan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Field Pendopo  membangun rumah flora (Green House) sebagai konservasi eksitu, rehabilitasi,  propagansi anggrek dan flora alam Pulau Sumatera.

Rumah flora terletak di kaki bukit Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Hasil kerjasama intensif antara PHR Zona 4 Field Pendopo bersama BKSDA Provinsi Sumsel yang dukung kader, relawan dan pengiat lingkungan Non Governmental Organization (NGO) Sumatra Nature & Biodiversity Conservation.

Rumah flora bertujuan mencegah kepunahan anggrek dan flora alam khas Pulau Sumatera.

Karena, ancaman kepunahan keanekargaraman hayati tersebut disebabkan beberapa faktor diantaranya, alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan (Deforestasi).

Perburuan tidak terkendali dilakukan secara masif terhadap flora didalam hutan.

Selain itu, tanaman anggrek dan flora alam  banyak tumbuh di areal kebun kopi masyarakat lokal.

Flora alam tersebut sering di anggap gulma karena menganggu produktivitas tanaman kopi. Padahal, kebun kopi tersebut berada di kawasan hutan dan hutan lindung sebagai vegetasi tumbuh kembangnya anggrek dan flora alam lainnya.

Kondisi ini mayoritas terjadi di kebun kopi masyarakat lokal Provinsi Sumsel.

 

Adanya Deporestasi hutan menyebakan anggrek dan flora alam terancam punah.

 

Kerjasama penyelamatan, rehabilitasi dan propagansi keanekaragaman hayati antara PHR Zona 4 Field Pendopo dan BKSDA Sumsel dalam membangun rumah flora sebagai konservasi eksitu.

Diharapkan menjadi inspirasi dan masukan dalam pengembangan program pelestarian keanekaragaman hayati bagi pemerintah daerah, stakeholder dan komponen bangsa lainnya.

Untuk bersama-sama melestarikan dan mencegah keanekaragaman hayati flora alam di hutan dari kepunahan.

Di rumah flora terdapat sejumlah spesies anggrek dan flora alam telah berhasil diselamatkan dari ancaman kepunahan.

Salah satunya spesies anggrek Bulan Sumatra (Phalaenopsis Sumatrana). Anggrek khas Pulau Sumatera.

Kegiatan penyelamatan dilakukan para kader BKSDA, relawan dan pengiat lingkungan secara berkesinambungan. Dimulai dari menggumpulkan tanaman anggrek dan flora alam yang nyaris punah dari vegetasinya. Kemudian, di rehabilitasi dalam Demplot mini (Demontratiin Plot)  yang telah dibangun secara tradisional oleh mereka.

Pungky Nanda Pratama menjadi motivator pengerak penyelamatan, rehabilitasi dan propagansi anggrek dan flora alam sekaligus kader BKSDA Sumsel.

Melakukan upaya penyelamatan dan rehabilitasi satu persatu tanaman anggrek dan flora alam yang terdampak Deforestasi.

Tanaman itu direhabilitasi dalam demplot mini agar tanaman tersebut tidak stres dan mati karena berpindah dari vegetasinya. Sebelum dikembalikan lagi ke tempatnya dalam hutan.

Perjuangan dan kegigihan berburu dengan waktu, Pungky dan kawan-kawan melakukan penyelamatan anggrek dan flora alam. Karena, perburuan tanaman dan flora alam di dalam hutan terus terjadi dan semakin marak. Sehingga, ancaman kepunahan semakin cepat terjadi.

“Kami mengakui kecamatan Selangit Kabupaten Mura merupakan tempat tumbuh kembangnya sejumlah spesies anggrek dan flora alam lainnya khas Pulau Sumatera. Karena, berada di kaki bukit TNKS yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Surolangun Provinsi Jambi,”jelas Pungky kepada beritasumatera.co.id.

Menurutnya, sejumlah spesies anggrek dan flora alam khas pulau Sumatera termasuk kategori langka dan dilindungi undang-undang (UU).

Mereka tumbuh di vegetasi tersebut  seperti Anggrek Bulan Sumatra (Phalaenopsis Sumatrana), Anggrek Bulan Ungu Sumatra (Phalaenopsis Violacea) dan Anggrek Vanda Sumatrana.

Ketiga tanaman anggrek tersebut masuk dalam daftar flora di lindungi negara dan terancam punah. Untuk melindungi  anggrek dan flora alam tersebut pemerintah telah mengeluarkan regulasi sebagai upaya perlindungan terhadap kelangsungan anggrek tersebut.

“Ada 29 jenis anggrek dinyatakan di lindungi termasuk anggrek Bulan Sumatra. Melalui peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 tahun 2018 tentang tentang jenis tumbuhan dan satwa yang di lindungi. Ketiga jenis di antaranya masuk ke dalam Appendix I dan 26 lagi masuk ke dalam Appendix II,”sebut dia.

Anggrek Bulan Ungu Sumatra ( Phalaenopsis Violacea )

 

 

 

Anggrek  Vanda Sumatrana
Anggrek Bulan Sumatra ( Phalaenopsis Sumatrana ) ,

 

Seiring dengan waktu, kata Pungky, demplot mini yang dibangun sederhana di lahan 4×6 meter.

Dengan daya tampung 250 spesies tanaman anggrek. Ternyata, semakin hari jumlah penyelamatan dan rehabilitasi meningkat. Sehingga, demplot mini tidak mampu lagi menampung spesies anggrek dan flora alam lainnya yang direhabilitasi.

“Tujuan kita menyelamatkan tanaman anggrek dan flora dalam hutan yang tidak ternilai ini dari kepunahan. Rehabilitasi dan propagasi anggrek spesies alam dan flora Sumatera, sama dengan menjaga identitas negara. Jika punah salah satu flora anggrek endemik sama dengan kehilangan ciri khas keanekaragaman hayati flora suatu negara. Kita tidak ingin generasi mendatang hanya melihat dari foto anggrek endemik tersebut telah punah,”tegasnya.

Giat penyelamatan, rehabilitasi dan propagasi anggrek dan flora alam di Sumatera terus dilakukan bersama petugas seksi konservasi wilayah (SKW) 2  sumber daya alam SDA Provinsi Sumsel membuahkan hasil.

Perusahaan PHR Zona 4 Field Pendopo selain menjalankan operasi hulu migas untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Memiliki komitmen peduli terhadap keaneragaman hayati flora fauna dan lingkungan sehingga mencegah kepunahan keanekaragaman hayati anggrek dan flora alam khas Pulau Sumatera. Dengan turut andil dalam pembangunan rumah flora.

Awal kerjasama pembangunan rumah flora dimulai tahun 2019 yang lalu. Managemen PHR Zona 4 Field Pendopo berkoordinasi intensif dengan BKSDA Provinsi Sumsel untuk mendirikan konservasi eksitu.

Hal itu akhirnya terwujudkan, karena pandemik virus Covid 19 yang terjadi kerjasama pembangunan rumah flora terhenti sementara.

Namun, giat penyelamatan, rehabilitasi dan propagansi anggrek serta flora alam di Sumatera terus dilakukan berkesinambungan oleh Pungky dan pengiat lingkungan lainnya.

Akhirnya, tahun 2021 pendirian rumah flora terwujud. Bangunan tersebut berdiri kokoh diatas lahan seluas 150 Meter Persegi dengan daya tampung sekitar 10.000 spesimen  anggrek dan flora alam untuk direhabilitasi.

“PHR Zona 4 Field Pendopo, menjadi pioner perusahaan pertama di Sumatera yang peduli dan mencegah terjadinya kepunahan anggrek serta flora alam khas Pulau Sumatera,”ungkapnya.

Dikatakan Pungky, selama perjalanan menunggu pembangunan rumah flora. Tahun 2020 dirinya berhasil menyelamatkan dua spesies anggrek langka Provinsi Sumsel dari kepunahan dan melestarikan dalam jumlah banyak spesies flora alam endemik Pulau Sumatera. Keberhasilan ini menorehkan prestasi penghargaan dari PT Pertamina (Persero) di ajang bergengsi tingkat nasional Local Hero Pertamina dengan kategori Pertamina Hijau.

“Saya dan teman pengiat lingkungan ingin memberikan penyadaran kepada masyarkat, pemerintah daerah dan stakeholder pembangunan di Kabupaten Mura, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Muratara dan daerah lainnya. Untuk peduli, menjaga dan mencegah kepunahan keanekaragaman hayati flora dan fauna di Pulau Sumatera. Karena, tindakan yang merusak ekosistem lingkungan dampaknya tidak hari ini. Tetapi masa yang akan datang,”tegasnya.


Rumah Flora (Green House) Selangit rehabilitasi dan propagansi anggrek dan flora alam di Sumatera dibangun PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Field Pendopo.

 

Niat Tulus Dan Kegigihan Pungky Melestarikan Flora Fauna Sumsel

Pasangan suami istri, Firdaus dan Reni Permata, warga Desa Triwikaton Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Mura mengatakan dirinya mengenal Pungky Nanda Pratama sejak tahun 2013.

Karena, sering kumpul, bercerita penyelamatan anggrek dan flora alam. Komunikasi yang intens terus terjaga terutama saat ada kegiatan tanaman anggrek.

“Dari sering kumpul akhirnya timbul niat untuk ikut melestarikan tanaman anggrek dan flora alam di Sumatera. Karena, perjuangan Pungky dan teman penggiat menyelamatkan flora tersebut sangat besar. Bahkan, belum ada di Provinsi Sumsel yang berbuat seperti Pungky,”kata Reni Permata.

Menurutnya, kecintaan terhadap tanaman anggrek dan flora alam karena bentuk pohon dan bunga yang unik, dan eksotis. Bahkan, varian anggrek di Indonesia lebih dari 7.000 jenis spesies, belum lagi dari hasil persilangan (Hybrid).

“Saya sedih pak, Deforestasi di Provinsi Sumsel luar biasa terjadi. Melihat pohon besar di tebang sangat miris, karena di batang tersebut ada flora alam yang tumbuh. Hal  itu, tidak menjadi perhatian semua orang. Jangan sampai flora khas Sumsel punah dan menjadi sebuah dokumentasi saja di masa mendatang,”ungkapnya.

Melihat fenomena yang terjadi, lanjut Reni. Dirinya bersama suami ingin membantu penyelamatan, rehabilitasi anggrek dan flora alam seperti yang dilakukan Pungky. Selain itu,  tim PHR Zona 4 Field Pendopo memberikan perhatian, support dan bimbingan dengan intensif kepada Pungky dan penggiat lingkungan lainnya.

“Semangat dan komitmen perusahaan PHR Zona 4 Field Pendopo peduli keanekaragaman hayati dari kepunahan. Memberikan kekuatan bagi pengiat lingkungan lainnya untuk terus bersama melakukan penyelamatan dan rehabilitasj secara berkesinambungan,”ujar Reni Permata pemilik rumah flora bernama Pelangi Orchid.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumsel, Ujang Wisnu Bhatara mengatakan ini kerjasama yang baik dalam pembangunan konservasi anggrek dan flora alam yang dilakukan Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Field Pendopo.

Kerjasama ini berkesinambungan terjalin selama lima tahun kedepan.

Untuk pembangunan rumah flora, tempat penjaga dan areal edukasi bagi masyarakat. Tujuannya untuk menjaga, melindungi dan melakukan upaya penyelamatan anggrek dan flora alam  langka dan di lindungi UU dari kepunahan.

“Rumah flora ini menggunakan sistem eksitu. Flora alam diselamatkan dari tempatnya, direhabilitasi dan dikembangbiakkan lalu dikembalikan lagi ke habitatnya (Release). Hal ini untuk menjaga ekosistem anggrek dan flora alam di lokasi tersebut,”jelas Ujang Wisnu Bhatara.

Dijelaskannya, pembangunan konservasi rumah flora bukan masalah yang pertama di Provinsi Sumsel atau apa.

Tetapi, ada komitmen perusahaan migas nasional melalui PHR Zona 4 Field Pendopo peduli dan ikut serta menyelamatkan keanekaragaman hayati anggrek dan flora alam.

Kepedulian terhadap lingkungan ini perlu dijadikan contoh bagi banyak pihak dan perusahaan lainnya. Untuk bersama menjaga dan mencegah kepunahan flora dan fauna ekosistem alam saat menjalankan aktivitas usahanya.

“Pembangunan konservasi rumah flora bukan solusi tunggal dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. Namun, rumah flora  menjadi tempat edukasi bagi semua pihak. Karena peranan melindungi alam dan potensi didalamnya sangat penting,”tegas dia.

Selain itu, diharapkan rumah flora atau tempat konservasi juga tersebar di seluruh provinsi Sumsel. Bukan menjadi museum tetapi fokus menuntaskan masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekitar tersebut.

Sehingga, mampu mencegah kepunahan flora dan fauna di wilayah tersebut dari pihak-pihak tertentu dan perburuan tanaman hutan secara masif.

Sementara itu, Senior Manager Pertamina Pendopo, I Wayan Sumerta beserta manajemen berkomitmen mendukung program konservasi BKSDA Sumsel.

“Melalui komunikasi dan koordinasi yang intens dengan BKSDA Sumsel, Pertamina Pendopo telah memprogramkan kegiatan konservasi untuk lima tahun ke depan. Melalui program ini, diharapkan dapat menyelamatkan anggrek dan flora alam lainnya dari kepunahan,” ujar Wayan.


(Kir-Kan), Tuti Dwi Patmayanti (Head of Comrel & CID Zona 4), M Nur Samudin W (Superintendent Pendopo Field HSSE OPS), I Wayan Sumerta (SR Manager Pendopo Field), Pungky Nanda (Kader BKSDA Sumsel) meninjau rumah flora Selangit.

 

Sedangkan, Martalis Puspito KM, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 2 BKSDA Provinsi Sumsel mengungkapkan ide konsevasi, rescue flora dan rehabilitasi anggrek ini terjadi ketika berjumpa dengan Pungky dan teman teman pengiat  lingkungan. Saat proses pengembalian satwa Kukang ke habitatnya di hutan tahun 2017 yang lalu.

“Obrolan sedikit itu akhirnya ditindaklanjuti dengan langkah membangun demplot mini. Semua atas dasar keinginan dan niat untuk menyelamatkan dari kepunahan anggrek dan flora alam akibat alih fungsi hutan dan perburuan flora,”kata Martalis kepada beritasumatera.co.id

Aktivitas rehabilitasi terus berjalan berkesinambungan, kata Martalis. Demplot yang dibangun awalnya sudah besar, ternyata tidak mampu menampung lagi. Karena, jumlah spesies flora semakin banyak dan petugas berburu dengan waktu dari perdagangan anggrek secara masif.

Akhirnya, muncul ide lain untuk membuat lebih besar konservasi, penyelamatan dan rehabilitasi  anggrek serta flora alam tersebut. Dengan menjalin kerjasama dengan Pertamina EP Pendopo Field sekarang berganti menjadi Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Field Pendopo.

Respon positif diberikan manajemen PEP Pendopo Field. Sehingga, membantu pembangunan areal Rescue Center di atas lahan 1/2 hektar dan berkesinambungan selama lima tahun kedepan. Untuk areal rehabilitasi, propagansi dan areal edukasi bagi masyarakat terhadap tanaman anggrek dan flora alam lainnya.

“Kami ingin jadikan Kecamatan Selangit Kabupaten Mura sebagai tempat konservasi anggrek dan flora alam. Sedangkan, konservasi Fauna Isau-Isau di  Kabupaten Lahat dan konservasi lahan ekosistem hujan tropis di Kabupaten Muara Enim,”ungkap Martalis Puspito.

Dia menambahkan, langkah konservasi, penyelamatan, dan rehabilitasi anggrek serta flora alam yang berjalan sekarang. Menjadi percontohan karena yang pertama di Provinsi Sumsel. Dirinya bersama teman teman relawan dan pengiat lingkungan berupaya mengembangkan anggrek serta flora alam secara luas di mulai dari lingkungan masyarakat sekitar rumah flora dan di luar Kabupaten Mura.

Terpisah, Nurbaiti Amir, Dosen Fakultas Pertanian Prodi Agro Teknologi Universitas Muhammadiyah Palembang mengatakan konservasi, penyelamatan dan rehabilitasi  anggrek dan flora alam langka di lindungi UU memberikan manfaat untuk pelestarian keaneragaman hayati di Provinsi Sumsel.

“Tujuannya jelas untuk melestarikan dan mengembangbiakan supaya  tanaman anggrek ini tetap lestari di habitatnya dan tidak punah. Sehingga, jumlahnya menjadi banyak, beragam dan bisa dikembalikan ke alam lagi. Tentunya hal ini sudah sesuai dengan aturan dan meibatkan BKSDA Provinsi Sumsel yang membidangi masalah konservasi tanaman,”kata Nurbaiti Amir kepada beritasumatera.co.id

Dia menambahkan adanya perusahaan PHR Zona 4 Field Pendopo yang berperan dalam rehabilitasi dan propagasi anggrek dan flora alam pulau Sumatera memberikan manfaat besar dalam pelestarian tanaman tersebut serta menjadi contoh nyata bagi perusahaan lainnya.

Untuk membangun rumah flora di lokasi aktivitas perusahaan melibatkan pengiat lingkungan.

Karena, anggrek dan flora alam yang telah dikembangbiakan sesuai aturan tentunya memicu pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Semoga kepedulian perusahaan PHR Zona 4 Field Pendopo berjalan secara berkesinambungan sebagai upaya melestarikan dan mencegah kepunahan tanaman anggrek dan flora alam lainnya khas Pulau Sumatera,”pungkasnya.(key)