Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Olah Limbah Peternakan Jadi Energi Alternatif di Lampung Tengah
LAMPUNG, BS – Dari kandang sapi, masyarakat Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengembangkan usaha. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BEJO SUKI (Berdikari melalui Biogas Kampung Rejo Basuki), Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal (IT) Panjang mendorong pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik yang memberi nilai tambah bagi masyarakat sejak 2022.
Kabupaten Lampung Tengah memiliki potensi peternakan yang besar, dengan populasi sapi mencapai 404.713 ekor berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026. Potensi ini menjadi peluang untuk mengelola limbah peternakan secara produktif. Di Desa Rejo Basuki, sebanyak 16 titik instalasi biogas telah dikembangkan dengan memanfaatkan kotoran dari 63 ekor sapi dan memberikan manfaat kepada 16 kepala keluarga.
Manfaat biogas tidak hanya dirasakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari, tetapi juga membantu menggerakkan usaha masyarakat. IKM Mulya, misalnya, memanfaatkan biogas dalam proses produksi keripik, nasi tiwul, tepung mocaf, dan berbagai olahan lainnya. Pemanfaatan energi alternatif ini turut membantu menghemat biaya pembelian LPG 3 kilogram sebesar Rp1.008.000 per tahun, sekaligus mendukung keberlangsungan usaha yang mencatat omzet hingga Rp180 juta per tahun.
Dampak program ini juga meluas ke sektor pertanian. Kotoran sapi yang diolah menjadi biogas mencapai 189.000 kilogram per tahun, sementara pemanfaatan _bio-slurry_ mendukung pengelolaan lahan sawah seluas 25,5 hektare. Pengolahan limbah peternakan turut menghasilkan pupuk organik hingga 2.268.000 kilogram per tahun, sehingga potensi yang sebelumnya terbuang kini dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.
Salah satu penerima manfaat, Titik, menyampaikan bahwa kehadiran biogas membantu kelompok ibu-ibu dalam menjalankan usaha produksi makanan untuk dipasarkan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, biogas ini membantu kami memasak untuk produksi keripik, nasi tiwul, tepung mocaf, dan produk lainnya. Kami bisa memanfaatkan potensi yang ada di sekitar untuk mendukung kegiatan usaha sehari-hari,” ujar Titik.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan bahwa program BEJO SUKI merupakan upaya perusahaan untuk mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi sumber manfaat yang berkelanjutan.
“Kami percaya potensi lokal dapat menjadi kekuatan bagi masyarakat jika dikelola dengan tepat. Melalui BEJO SUKI, limbah peternakan tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, tetapi juga mendukung usaha produktif dan pertanian. Harapannya, masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Rusminto.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel terus mendorong program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat bagi ekonomi sekaligus lingkungan. BEJO SUKI sejalan dengan Asta Cita dalam memperkuat kemandirian energi nasional serta mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
