Kisah Halim, Setelah 1 Dekade Mengabdi Diangkat Jadi PPPK Di ujung Usia

Laporan: Hasan Basri

 

KOTA PALEMBANG, BSDi Aula SMK Negeri Palembang, senyum Pak Halim tak bisa disembunyikan. Di sampingnya berdiri sang anak, M Awal Ramadhan. Keduanya datang dari Belida Darat, Kabupaten Muara Enim, membawa harapan yang telah mereka simpan bertahun-tahun lamanya.

 

Hari itu, mereka menerima Surat Keputusan (SK) Gubernur Sumatera Selatan, surat perintah penugasan, sekaligus menandatangani Surat Perjanjian Kerja (SPK) sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Keduanya diangkat sebagai tenaga kependidikan, staf Tata Usaha (TU) di SMK Negeri 1 Belida Darat.

 

Bagi Pak Halim, pengangkatan ini bukan sekadar status administratif. Ia adalah pengakuan atas pengabdian panjang yang telah ia jalani selama satu dekade. Selama 10 tahun, Halim bekerja sebagai honorer staf TU. Pada dua tahun pertama, ia hanya menerima gaji Rp100 ribu per bulan. Angka yang nyaris tak cukup untuk sekadar menyambung hidup.

 

“Waktu itu digaji Rp 100 ribu. Kemudian perlahan naik, terakhir sekitar Rp 500 ribu per bulan,” ujarnya sambil tersenyum.

 

Gaji itu bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang ia terima dengan penuh rasa syukur, meski jauh dari kata cukup.

 

Dengan lima orang anak yang harus dibiayai, Halim tak punya pilihan selain bertahan. Ia mencukupi kebutuhan keluarga dengan mengandalkan sepetak kebun karet dan nanas yang dimilikinya. Dari kebun kecil itulah dapur tetap mengepul, dan anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

 

Kini, di usia 54 tahun, Halim akhirnya diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu bersama anaknya sendiri yang telah mengabdi selama empat tahun di sekolah yang sama. Namun kebahagiaan itu bercampur dengan kegelisahan.

 

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Saya bersyukur bisa diangkat bersama anak saya,” kata Halim. “Tapi usia saya sudah 54 tahun. Tinggal satu tahun lagi pensiun. Jujur, masih ada rasa resah.”

 

Ia belum mengetahui secara pasti berapa gaji yang akan diterima sebagai PPPK Paruh Waktu. Meski demikian, baginya pengangkatan ini tetap bermakna. Setidaknya, ada pengakuan atas kerja panjang yang selama ini sering luput dari perhatian.

 

Kisah Halim dan Awal Ramadhan adalah potret kecil dari ribuan tenaga honorer di Indonesia,mereka yang setia bekerja di balik meja administrasi sekolah, menjaga roda pendidikan tetap berputar, meski kerap luput dari sorotan. Di tengah keterbatasan, mereka bertahan dengan harapan sederhana,diakui, dihargai, dan diberi kesempatan hidup yang lebih layak.

 

Bagi Halim, senyum hari itu adalah senyum seorang ayah yang tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan anaknya.