Sering Tolak Ratusan Siswa, SMPN 41 Palembang Butuh Tambahan 12 Ruang Kelas Baru

Laporan: Hasan Basri

 

KOTA PALEMBANG, BSTingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di SMP Negeri 41 Palembang justru memunculkan persoalan baru. Sekolah yang berada di wilayah perbatasan Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin itu kini menghadapi keterbatasan ruang belajar, sehingga kegiatan belajar mengajar harus dilaksanakan dengan sistem double shift.

 

Kepala SMP Negeri 41 Palembang, Suharso, mengatakan setiap tahun jumlah pendaftar terus meningkat, terutama menjelang pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran baru. Banyak orang tua memilih sekolah tersebut karena dinilai strategis dan memiliki kualitas pendidikan yang terus berkembang.

 

Namun, tingginya antusiasme masyarakat belum sebanding dengan kapasitas bangunan sekolah yang tersedia saat ini.

 

“Peminat yang ingin masuk ke SMP Negeri 41 cukup banyak. Tetapi karena ruang kelas kami hanya memiliki 19 ruangan, maka daya tampung belum terpenuhi. Akibatnya, proses belajar mengajar dilakukan dengan sistem dua shift,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, saat ini siswa kelas VIII dan IX masuk pada pagi hari, sedangkan siswa kelas VII harus mengikuti pelajaran pada siang hari. Kondisi itu dilakukan agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran meski fasilitas ruang belajar terbatas.

 

Menurutnya, idealnya sekolah membutuhkan tambahan 12 ruang kelas baru, sehingga total ruang belajar menjadi 31 ruangan. Dengan penambahan itu, sistem belajar dua shift dapat diakhiri dan seluruh siswa bisa belajar dalam satu jadwal normal seperti sekolah lainnya.

 

“Kalau ada tambahan 12 ruang kelas, seluruh siswa bisa tertampung dan kegiatan belajar kembali normal,” katanya.

 

Harso mengungkapkan, jumlah siswa yang saat ini belajar di SMP Negeri 41 mencapai sekitar 1.000 orang. Menjelang SPMB, calon peserta didik yang mendaftar selalu membludak. Bahkan setiap tahun, sekitar 100 hingga 200 calon siswa terpaksa dialihkan ke sekolah lain karena kuota tidak mencukupi.

 

“Kami sangat menyayangkan karena banyak masyarakat ingin masuk ke sini, tetapi kapasitas sekolah belum memadai,” ujarnya.

 

Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian serius terhadap sekolah-sekolah pinggiran yang memiliki jumlah peminat tinggi, terutama melalui pembangunan gedung bertingkat.

 

Menurut dia, lahan sekolah memang terbatas. Namun, sebagian bangunan sudah bertingkat dan masih memungkinkan dilakukan pengembangan pada gedung lain yang belum bertingkat.

 

“Harapan kami sekolah ini bisa ditingkatkan bangunannya agar daya tampung siswa terpenuhi,” katanya.

 

Selain persoalan ruang kelas, SMP Negeri 41 juga menghadapi keterbatasan fasilitas ibadah. Mushala yang berada di lingkungan sekolah dinilai terlalu kecil dan tidak mampu menampung banyak siswa.

 

Ketika siswa melaksanakan shalat berjamaah, ujian praktik pelajaran agama, maupun kegiatan keagamaan lainnya, kondisi ruangan sering penuh sesak dan kurang nyaman.

 

“Kalau satu kelas saja masuk untuk praktik pelajaran agama, sudah berdesakan. Jarak plafon ke lantai juga rendah sehingga kurang leluasa,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, lokasi mushala saat ini berada di bagian belakang sekolah dan dinilai kurang strategis. Karena itu, pihak sekolah berharap ada bantuan dari pemerintah maupun perusahaan BUMN melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membangun mushala baru di lahan kosong yang masih tersedia.

 

Harapan serupa juga datang dari kalangan siswa. Salah seorang siswi kelas VIII, Safira Nazwa, mengatakan dirinya berharap sekolah segera memiliki tambahan ruang kelas agar sistem belajar dua shift dapat dihapuskan.

 

Menurut Safira, sistem masuk pagi dan siang membuat ritme belajar berbeda dengan sekolah lain yang sudah menerapkan full day school.

 

“Kami berharap ada tambahan ruang kelas supaya sekolah bisa normal seperti sekolah lain,” ujarnya.

 

Ia juga berharap SMP Negeri 41 nantinya dapat menerapkan full day school, sehingga hari Sabtu menjadi waktu libur yang bisa dimanfaatkan siswa untuk belajar mandiri, berkumpul bersama keluarga, atau beristirahat.

 

Selain itu, ia berharap mushala sekolah diperluas agar siswa dapat beribadah dengan lebih nyaman.

 

“Kalau mushala diperbesar, siswa bisa shalat bersama dengan nyaman dan tidak berdesakan,” tutupnya.