Tiga Kabupaten Siaga, Pemprov Sumsel Perketat Patroli Lahan Gambut Guna Deteksi Dini Api

Laporan: Tia

 

KOTA PALEMBANG, BS — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai 22 April hingga 30 November 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi mulai melanda pada Mei mendatang.

 

Kebijakan ini menyusul penetapan status serupa oleh Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir, guna menggerakkan personel serta peralatan pemadaman secara lebih masif di wilayah-wilayah rawan titik panas.

 

“Sudah tiga daerah, terbaru Muba menaikkan status siaga karhutla. Sebelumnya OKI dan Ogan Ilir menaikkan status sehingga provinsi juga bisa menetapkan status siaga,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, pada Rabu (29/04/2026).

 

Sudirman menjelaskan bahwa penetapan status siaga di tingkat daerah memiliki durasi yang bervariasi, yakni OKI hingga 31 Desember, sementara Ogan Ilir dan Muba hingga 30 November.

 

Dengan adanya payung hukum status siaga ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di seluruh tingkatan kini dapat memperketat patroli rutin guna melakukan deteksi dini terhadap munculnya api di lahan-lahan gambut maupun area perkebunan.

 

“Penetapan status siaga ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi karhutla yang kerap terjadi saat musim kemarau. Pemda bersama BPBD setempat mulai meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk patroli rutin di wilayah rawan karhutla,” jelasnya.

 

Guna memperkuat upaya pemadaman, BPBD Sumsel juga mengusulkan bantuan sepuluh unit helikopter kepada pemerintah pusat untuk kebutuhan patroli udara dan operasi water bombing (pengeboman air).

 

Selain fokus pada pemadaman, koordinasi intensif terus dilakukan dengan mendorong kabupaten rawan lainnya agar segera menaikkan status kewaspadaan mereka demi mempermudah mobilisasi bantuan teknis.

 

“Kami juga mendorong wilayah lain untuk menetapkan status siaga karhutla, khususnya di wilayah-wilayah yang rawan,” imbuhnya.

 

Pihak BPBD turut meminta kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, yang seringkali menjadi pemicu utama bencana kabut asap.

 

Kerja sama antara petugas dan masyarakat dalam melaporkan temuan titik api secara cepat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas udara dan stabilitas ekonomi daerah selama musim kemarau berlangsung.

 

“Masyarakat juga diminta berperan aktif dalam mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran. Langkah cepat ini diharapkan mampu meminimalisir dampak karhutla yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ucap dia.