Respons Keluhan Wali Siswa, Kadisdik Palembang Instruksikan Kontrol Berlapis Program Makan Bergizi Gratis

Laporan: Hasan Basri

 

KOTA PALEMBANG, BSDinas Pendidikan Kota Palembang memperketat pengawasan pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menyusul munculnya keluhan dari sejumlah wali siswa terkait kualitas makanan yang diterima anak-anak di sekolah.

 

Langkah ini ditegaskan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang, Muhammad Affan Prapanca, sebagai upaya memastikan program strategis tersebut benar-benar memberi manfaat tanpa mengorbankan aspek keamanan pangan.

 

Affan menegaskan, pihaknya tidak akan mentoleransi adanya kelalaian dalam penyajian MBG. Sekolah diminta proaktif menjadi penghubung antara orang tua dan dinas jika ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi.

 

“Keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama. Jangan sampai kejadian keracunan yang pernah terjadi sebelumnya terulang kembali. Ini harus menjadi pelajaran serius bagi semua pihak,” ujarnya.

 

Ia kembali menegaskan komitmennya untuk memperbaiki sistem pengawasan. Ia memastikan setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti dengan cepat dan serius dengan menunjukkan bukti.

 

“Program ini sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang siswa. Karena itu, kualitasnya harus dijaga. Kami akan terus memperketat pengawasan dan memastikan seluruh pihak menjalankan tanggung jawabnya dengan maksimal,” ungkapnya.

 

Penguatan pengawasan ini juga mencakup koordinasi lebih ketat dengan pihak penyedia makanan, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar seluruh proses mulai dari pengolahan hingga distribusi makanan memenuhi standar higienitas dan kelayakan.

 

Di lapangan, pelaksana program mengklaim telah menjalankan prosedur sesuai ketentuan. Salah satu juru masak MBG di wilayah Plaju Darat, Choria, memastikan bahwa proses penyajian makanan dilakukan berdasarkan arahan SPPG. Mulai dari pemilihan menu, pengolahan lauk, hingga distribusi susu dan buah, semuanya disebut telah mengikuti standar yang ditetapkan.

 

“Alhamdulillah, sejauh ini kami tidak ada kendala bekerja sesuai petunjuk. Menu yang diberikan sudah diatur, termasuk cara memasak dan penyajiannya,” ungkapnya.

 

Namun demikian, sejumlah wali siswa mengaku masih menemukan persoalan di lapangan. Dewi (nama samaran), orang tua siswa di kawasan Ilir Barat II, menceritakan pengalaman kurang menyenangkan yang dialami anaknya. Ia menyebut makanan MBG yang dibawa pulang dalam kondisi sudah tidak layak konsumsi.

 

“Anak saya tidak sempat makan di sekolah karena sudah kenyang, jadi dibawa pulang. Tapi saat hendak dimakan di rumah, lauknya sudah berbau dan seperti basi, padahal jeda waktunya tidak lama,” tuturnya.

 

Ia berharap pemerintah dapat memastikan kualitas makanan tetap terjaga hingga benar-benar dikonsumsi oleh siswa.

 

Keluhan serupa juga disampaikan Eliyati (nama samaran). Ia mengaku beberapa kali mendapati kondisi makanan yang dinilai tidak sesuai standar. “Pernah telur rebus yang diterima anak saya saat dibuka lengket dan berbau. Ini tentu membuat kami khawatir.

 

“Para orang tua berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya pada aspek kualitas dan ketahanan makanan. Mereka juga meminta sekolah sebagai perpanjangan tangan pemerintah lebih aktif menyampaikan temuan di lapangan kepada pihak terkait, agar perbaikan bisa segera dilakukan,” tutupnya.