Kelola Limbah Cair Kelapa Sawit Prioritas Utama PT SAS Produksi CPO

MUSIRAWAS ,BS- Produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) jadi target utama PT Selatan Agung Sejahtera (SAS) setiap hari. Tetapi, pengelolahan limbah cair menjadi perhatian utama untuk mendukung produksi CPO.

Pabrik CPO tersebut beroperasi di Desa Petunang Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas (Mura). Dengan daya kapasitas 60 ton per jam. Besarnya kapasitas pabrik berpengaruh dengan limbah cair. Pengelolahan limbah cair jadi prioritas dengan melibatkan akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mura.

Hal tersebut dikatakan, Humas PT SAS, Irawan, SE saat melakukan pemeriksaan rutin pengelolahan limbah cair di pabrik CPO PT SAS. Menurutnya, pengelolahan limbah cair telah dibangun kolam penampungan sebanyak 21 kolam. Masing-masing kolam penampungan ada berukuran 20×100 meter dan 20×200 meter.

Untuk kolam utama limbah cair, manajemen membangun turap keliling. Hal itu, mengantisipasi kebocoran dan longsor ketika musim penghujan tiba. Selain itu, pembangunan turap dilakukan di kolam penampungan akhir. Karena, kolam penampungan terakhir itu yang berbatas langsung dengan aliran sungai.

“Kita (PT SAS) bangun turap dari kolam penampungan limbah cair berjarak 20 meter. Turap dibangun berdasarkan hasil kajian BLH Kabupaten Mura. Karena, berbatasan langsung dengan aliran sungai,”jelas Irawan. Sabtu (26/1).

Irawan menjelaskan saat ini telah dibangun kolam penampungan akhir limbah cair. Air yang masuk di kolam tersebut telah melalui proses pengelolahan limbah. Di kolam tersebut dimasukan juga biota air tawar berupa ikan. Biota itulah menjadi kontrol bahwa air tersebut layak, aman dan setril untuk kembali ke ekosistem lingkungan sekitar.

Selain itu, petugas juga melakukan pengecekan keasaman air di kolam penampungan limbah cair akhir. Pengecekan dilakukan menggunakan alat tes pengukur pH air.

“Pengecekan kadar pH secara rutin sangat penting dilakukan. Karena, untuk mengukur tingkat derajat keasaman (H+) air. Besar kecilnya nilai pH pada sampel air yang digunakan sebagai parameter utama untuk mengetahui keadaan atau sifat baik buruknya sampel limbah cair tersebut. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2. Namun beberapa air memiliki pH di bawah 6,5,”ujarnya.

Dia menambahkan, dalam pengelolahan limbah juga disertai dengan bakteri pengurai. Dengan dilengkapi teknologi pengelolahan limbah cair. Semua proses pengelolahan limbah cair sesuai aturan yang telah ditentukan.

“Saat ini juga managemen telah mengajukan izin pengelolahan limbah cair (IPLC) di instansi pemerintah. Meski masih proses pengajuan namun pengelolahan limbah cair menjadi prioritas utama selain target produksi CPO,”pungkasnya.(key)