PUTUS – Akses jalan alternatif Ulu Kulit Kecamatan Muara Lakitan terputus akibat truk pengangkutan kayu setiap hari.
MUSI RAWAS,BS – Aktivitas truk pengangkutan kayu (Logging) di Jalan Ulu Kulit Desa Pelita Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas (Mura) selama 24 jam tanpa henti. Mengakibatkan rusaknya dan terputusnya akses jalan alternatif yang dibangun perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Pratama Palm Abadi (PPA).
Akibatnya ratusan ton buah kelapa sawit tidak bisa keluar dari perkebunan dan masyarakat umum tidak bisa melalui akses jalan alternatif tersebut. Padahal akses jalan alternatif itu menjadi kebutuhan disaat kondisi banjir saat sekarang.
Perwakilan PT Pratama Palm Abadi (PPA), Babeh Suroso melalui Staf Junanto menegaskan jalan alternatif dibangun perusahaan dapat digunakan tidak hanya bagi perusahaan pengangkutan buah kelapa sawit melainkan bagi masyarakat umum sekitar seperti Desa Pelita dan Desa Prabumulih 1 Kecamatan Muara Lakitan.
“Akses jalan itu memang dibangun perusahaan. Sejak ada pelarangan dari warga menggunakan akses jalan pemukiman desa Prabumullih 1 untuk pengangkutan kelapa sawit. Jalan alternatif dibangun sejak dua tahun lalu dan dipergunakan perusahaan serta masyarakat sekitar,” tegas Junanto saat dilokasi Jalan alternatif Ulu Kulit Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Mura. Rabu (14/03/2018).
Menurutnya, akses jalan alternatif Ulu Kulit sering digunakan masyarakat.
Termasuk saat kondisi banjir di Desa Prabumulih Kecamatan Muara Lakitan. Namun, kondisi jalan yang rusak berat dan tidak bisa dilalui mengakibatkan kerugian besar pihak perusahaan yang tidak bisa mengangkut buah kelapa sawit keluar dari perkebunan dan masyarakat lainnya.
“Jalan ini rusak akibat truk pengangkut kayu (Logging) yang setiap hari selama 24 jam melintas tanpa memikirkan kondisi jalan. Apalagi tidak ada pengawasan terhadap truk logging kayu tersebut dari swamil kayu yang tersebar didalam hutan,” jelas dia.
Dia menjelaskan, kerusakan jalan alternatif Ulu Kulit ini mencapai 700 meter. Setelah diperbaiki kembali hancur diperparah dengan curah hujan yang tinggi setiap harinya.
Apalagi tidak ada kontribusi pemilik swamil kayu dan pengangkutan kayu yang melintas di lokasi tersebut.
“Kita bangun jalan sendiri bertujuan agar bisa digunakan masyarakat juga. Apalagi sebagai jalan alternatif saat kondisi jalan pemukiman tergenang banjir,” kata Junanto.
Terpisah, Andi (40) warga Desa Pelita menegaskan dirinya tidak bisa melintas dijalan tersebut karena sudah rusak berat.
“Ini baru diperbaiki pihak perusahaan pak. Masih ada alat beratnya tetapi besoknya hancur lagi karena banyak truk pengangkut kayu yang melintas. Kami minta pengawasan dan pemeriksaan terhadap truk-truk pengangkut kayu tersebut. Jika perlu dilarang melintas pak,” pungkasnya. (key)
