Dorong Akses Pasar Global, 101 Pekebun Kelapa Sawit OKI Ikuti Pelatihan Sertifikasi ISPO
Laporan: Tia
KOTA PALEMBANG, BS — Perkebunan (BPDP) bersama PT Iskol Agridaya Internasional menggelar pelatihan implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi 101 pekebun kelapa sawit Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di Hotel Aryaduta Palembang pada 9–14 Juni 2026.
Agenda yang menggandeng Ditjen Perkebunan Kementan RI ini bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendorong tata kelola perkebunan rakyat yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
“Menerapkan ISPO memiliki keuntungan salah satunya meningkatkan produktifitas dengan menerapkan GAP kelapa sawit yang di atur dalam ISPO kemudian dapat meningkatkan akses pasar dan dapat tertelusur sehingga diketahui asal usul CPO dan tentunya dengan peningkatan kesejahteraan petani,” ujar perwakilan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Tulus Margono, pada Rabu (10/06/2026).
Tulus menyampaikan jika pasca pelatihan ini para peserta diharapkan segera mengaplikasikan standar tersebut di lahan masing-masing agar dapat berlanjut ke tahap sertifikasi.
“Setelah mendapatkan pelatihan ISPO ini bapak dan ibu dapat menerapkan di wilayah kebun masing-masing sehingga kedepannya dapat dilanjutkan pelatihan dan Internal Control System dan dapat fasilitasi sertifikasi ISPO yang difasilitasi ke program sapras yang didanai BPDP,” imbuhnya.
Secara resmi, ia membuka kegiatan tersebut dan meminta 101 pekebun yang terbagi dalam tiga kelas pembelajaran itu untuk menyimak seluruh materi bimbingan teknis dengan seksama.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI, Dedy Kurniawan, mengungkapkan jika daerahnya memegang peranan krusial karena memiliki luasan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terbesar di tanah air.
“Peremajaan sawit (PSR) Kab. OKI merupakan yang terluas di Indonesia dengan total 36.674,4144 Ha dengan 50 Kelembagaan pekebun peserta PSR,” ungkapnya.
Sebagai daerah dengan implementasi PSR terluas, Kabupaten OKI diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap stabilitas harga jual komoditas kelapa sawit di tingkat petani.
Dedy menekankan bahwa setelah target peremajaan tercapai, fokus utama harus bergeser pada perbaikan tata kelola produksi, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kualitas SDM pekebun.
“Semoga kita semua diberikan kesehatan selama 6 hari pelatihan ini dan diharapkan peserta tidak bosan mengikuti pelatihan serta memanfaatkan kesempatan pelatihan ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Selatan, Havizman mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pelatihan dengan penuh komitmen agar ilmu yang didapat bisa langsung diimplementasikan.
“Mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh sehingga ilmu dan pemahaman ISPO yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan serta disebarluaskan kepada pekebun lainnya di wilayah masing-masing,” tuturnya.
Havizman bersama perwakilan Ditjenbun juga menegaskan bahwa pelatihan ini memiliki nilai politis dan strategis dalam memposisikan pekebun mandiri sebagai motor penggerak transformasi industri hijau.
Sinergi antara BPDP, Ditjen Perkebunan, dan ISKOL ini diproyeksikan mampu mencetak agen perubahan di tingkat tapak yang mampu menularkan prinsip-prinsip budidaya berkelanjutan kepada pekebun swadaya lainnya.
“Melalui investasi pengetahuan ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan pada aspek produktivitas dan kesejahteraan petani sawit di Kabupaten Ogan Komering Ilir secara berkelanjutan,” tutupnya.
